ALFI NUR CAHYANTI PENGGIAT PEREMPUAN


    Di antara hiruk pikuk kegiatan mahasiswa dan gerakan sosial di Tulungagung, ada satu nama yang kini mulai banyak diperbincangkan: Alfi Nur Cahyanti. Sosok muda yang tenang namun tegas ini dikenal sebagai Ketua Korps PMII Putri (KOPRI) Cabang Tulungagung, sekaligus penggerak isu-isu perempuan di kalangan mahasiswa dan masyarakat.

    Bagi mbak Alfi, menjadi perempuan bukan sekadar identitas melainkan amanah perjuangan. Dalam berbagai kesempatan, ia kerap menegaskan pentingnya ruang aman bagi perempuan, terutama di dunia kampus dan organisasi. “Banyak perempuan yang masih takut bersuara, padahal keberanian itu adalah awal dari perubahan,” tuturnya dalam salah satu kegiatan Sekolah Kader KOPRI bertema “Let’s End Sexual Violence: Perempuan dalam Teror Kekerasan Seksual.”

    Di bawah kepemimpinannya, KOPRI Tulungagung tidak hanya menjadi wadah kaderisasi, tetapi juga ruang edukasi dan advokasi. Melalui kegiatan seperti KOPRI Camp dan pelatihan advokasi, mbak Alfi berupaya menghidupkan semangat solidaritas sesama perempuan. Ia percaya bahwa kader KOPRI bukan hanya aktivis organisasi, tetapi juga agen perubahan sosial. “Kami ingin perempuan PMII punya kesadaran kritis dan keberanian bertindak,” ujarnya.

Perjalanan mbak Alfi tidak lepas dari semangatnya sejak mahasiswa di lingkungan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU). Di kampus itulah ia banyak belajar tentang kepemimpinan, kesetaraan gender, dan pentingnya pendidikan bagi perempuan. Rekan-rekannya mengenalnya sebagai sosok yang sabar, komunikatif, dan konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Namun perjuangan mbak Alfi bukan tanpa tantangan. Dalam masyarakat yang masih kerap menempatkan perempuan pada posisi terbatas, ia sering menghadapi pandangan skeptis. “Kadang dianggap terlalu vokal, terlalu idealis. Tapi saya percaya, perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk berbeda,” katanya dengan senyum yakin.

    Kini, mbak Alfi Nur Cahyanti menjadi inspirasi bagi banyak kader muda, terutama perempuan, untuk tidak takut tampil dan bersuara. Melalui kiprahnya, ia membuktikan bahwa perjuangan perempuan bukan tentang melawan laki-laki, melainkan tentang menegakkan nilai kemanusiaan dan keadilan untuk semua.

“Selama masih ada ketimpangan, perjuangan belum selesai,” pungkasnya.




Komentar

Postingan populer dari blog ini